Romansa Cinta Eyang Kakung dan Eyang Putri (Based on True Story-Full version)

Selasa, 14 Juni 2011 0 komentar

picture from google..



(backsound: Sepasang Mata Bola-unknown)

Pemuda itu berbadan tegap, legam coklat kulitnya, mata hitam tajam memandang, dengan alis tebal menggantung hingga tipis-tipis hampir bersambung diantara keduanya.
Ototnya kekar tegap dan padat, tidak menggembung, namun bekas-bekas kerja keras mencangkul sawah jelas tergambar dalam setiap tetes air keringat yang bercucur dari tiap milimeter pori-porinya.

Pria ini tidak banyak cakap, pendiam namun tegas, berkomitmen dan bertanggung jawab atas setiap keputusannya, Tak kurang satu dua pria meminta ia untuk meminang putri kesayangannya. Namun belum ada satu orang wanita pun yang bisa mengisi celah di hatinya.

Hingga pada suatu ketika, kala itu agresi militer belanda pertama tiba.

Merah putih yang baru saja dikibarkan beberapa tahun, ternyata harus mengalami cobaan pertamanya. Kumpeni Belanda datang kembali untuk mengambil alih perkebunan-perkebunan penting, termasuk kala itu di Kota Banyuwangi yang dihuni pemuda itu.
Semua lapisan masyarakat, kaya miskin, tua muda, ikut merasakan perjuangan mempertahankan merah putih tanpa warna biru tetap berkibar.
Setiap pemuda selalu takjub akan suara Bung Karno yang meletup-letup ketika berpidato, mengobarkan jiwa ikut memiliki bangsa, meski belum sempat untuk melihat langsung dan terpisah ratusan kilometer membentang.

Pemuda itu ikut berdiri di barisan terdepan bersenjatakan pacul (cangkul) yang dengan sekali dua tebasan mampu mengoyak wajah serdadu belanda itu, mengobarkan semangat pemuda yang lain untuk terus berjuang.
Sontak para serdadu bergidik tak menyangka bahwa seorang petani dengan cangkulnya mampu memimpin pasukan mengobarkan semangat perjuangan dan memukul mundur para penjajah.

Walhasil pemuda itu pun menjadi bidikan utama untuk ditangkap dan dipenjarakan.

Suatu ketika terjadi penyerangan besar-besaran dengan senjata berapi mematikan yang setidaknya memporak-porandakan pasukan pejuang tanah air. Beruntung pemuda itu masih selamat, dan masih bisa melarikan diri, dengan langkah tertatih, dengan status masuk daftar pencarian orang.

Tak mungkin untuk berdiam diri di kota Banyuwangi lagi, maka pria ini melangkahkan kaki untuk pindah ke kota sebrang, berjalan menyamar seperti orang biasa, merubah nama menjadi Samsul Hadi, melalui hutan-hutan dan jalan yang tidak mudah.

Naas baginya, penyamaran terbongkar, pemuda ini tertangkap di kota Malang.


*******


Seorang wanita sholihah, berasal dari keluarga baik-baik, anak ketiga dari 5 bersaudara, hidup bahagia dengan sebuah ikatan pernikahan, harmonis, mesra, bahagia. Keduanya sama-sama menikah di usia muda, tak ubahnya seorang gadis desa yang cantik idaman para perjaka di kampungnya, bersanding dengan pemuda pilihan keluarga terpandang. Berdua mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia, tak kurang suatu apapun.

Kabar bahagia itu tiba, wanita itu hamil.

Berdua setiap hari merekahkan senyum, mencoba-coba mencari bakal nama untuk sang anak. Sang suami setiap hari menciumi perut calon ibu itu seraya mengelus, membayangkan lucunya ia ketika balita nanti, menuntunnya belajar berjalan, menimang ketika menangis, dan mengajarkan arti kehidupan kepada sang anak. Terkadang sang istri merajuk meminta mangga muda, sang suami memanjat dan mengambil satu dua buah mangga yang masih mentah, semua demi sang istri dan bayi dalam kandungan tentunya.

Bahagia mereka.. sungguh bahagia..

Hingga pada suatu ketika, panggilan untuk berjuang pun datang, merah putih harus terus dikibarkan. Sebagai salah satu kaum muda yang berpengaruh kala itu, Sang suami tersebut memberanikan diri untuk masuk berjuang bersama pemuda lain.
Rasa nasionalisme yang semakin membuncah setelah mendengar pidato kharismatik Bung Karno di radio, semua lapisan masyarakat mengambil segala sesuatu sebagai senjata, tak ada kata untuk “tidak berjuang” kala itu.

Ketika hendak berangkat, sang suami mengecup kening istri. Berbicara tentang sepatah dua patah kata cinta.

Kemudian mencium perut sang istri. Mengucap pesan seorang ayah kepada anaknya. Wanita berkerudung itu menangis, sesekali sang suami menghapus setiap tetes air mata yang menetes di pipinya. Mencoba untuk lebih tegar, dan meyakinkan sang istri bahwa medan perang tak akan lama.
Ia pasti kembali.

Naas baginya.. kecupan kening tersebut adalah kecupan terakhir.

Sang suami gugur di medan perang



******


Samsul Hadi, hari-harinya dilalui di dalam penjara Belanda. Tidak hanya dikurung dalam jeruji besi yang hitam dan berkarat, Belanda memperbudak pria ini untuk bertani. Menanam segala apa yang dapat ditanam, merawat apa yang bisa dirawat. Yah.. setidaknya kesibukan membuatnya bisa meninggalkan kepenatan.

Cangkul itu sama, gagang kayu panjang dengan lekukan halus diujungnya, menggapit besi hitam pipih berkarat, tajam dan kuat.
Tanah itu sama, butiran coklat gembur dengan licak hitam tersiram butiran air bening, subur.
Padi itu sama, tanaman 80-100 cm merunduk ringkih dengan biji padat terlilit daun, hijau membentang.

Tetapi dia merasa geraknya yang bebas berubah menjadi terbatas, Matahari yang bersinar seolah semakin kejam mencubiti setiap inchi kulit bersisik putih tipis. Setiap desah nafas yang ia hirup seolah semakin sesak memenuhi kerongkongan dan paru. Air putih kendi dingin yang diantar dengan senyum Ibu dan adik tak ada lagi. Tersadar sepenuhnya, bukanlah air putih itu yang membuatnya semangat kembali bertani, senyum itu yang bisa membawa kekuatan baru. Ada sesuatu yang hilang.

Sepenuhnya tak ada penyesalan dari dalam benak pemuda ini. Meskipun ia gagal, setidaknya semangatnya masih bisa diperjuangkan kawan-kawannya di seluruh antero negeri ini. Setidaknya dia sudah berjuang untuk anak cucunya nanti. Ia rela mati demi merubah getir pahit nasib yang pernah dialaminya, dialami ayahnya. Tak rela jika anak cucunya harus merasakan getir yang sama, penderitaan yang sama.

Ia ingin anak cucunya kelak bersanding sejajar dengan bangsa-bangsa lain, tak melulu meneteskan perihnya cambuk darah kesakitan, tak selalu merasakan pahitnya air liur yang ditelan lagi untuk menambal sisi kosong lambungnya.
Ia tahu sel tahanan dan serdadu Belanda yang berdiri mematung dengan tawa angkuh itu tak lama akan ia tinggalkan, entah sebulan ke depan, setahun atau dua tahun ke depan, tak ada yang tahu..


***

Chosiatin, setiap hari yang dilaluinya hanya tangisan air mata yang tak kunjung berhenti, tak bisa ditambal. Dadanya masih pilu sembilu dalam luka menganga yang tak kunjung terobati. Tergerak ia untuk segera pindah berkemas, kembali ke rumah ayahanda dan ibunda. Mencoba menghapus kenyataan, kenyataan yang pedih sebuah episode kelabu.
Yah.. setidaknya dia masih memiliki ayah dan ibu untuk tempat mengadu.

Cangkir tempat ia minum itu sama, keramik putih gambar perahu warna biru dengan gagang cuping telinga kecil persis tak ada goresan atau bercak secuil pun.
Sendok makan itu sama, besi stainless steel mengkilat dengan ujung bengkok melengkung tanggung membesar tak ada goresan atau bercak secuil pun.
Rembulan malam itu sama, berpendar memantulkan cahaya matahari namun tetap tak mampu menerangi seluas jagad, tak ada yang berubah.

Tetapi rumah ayah dan Ibunya kini seolah hanya sekumpulan puing-puing membisu, hari demi hari dilaluinya dengan berbagai kesibukan layaknya Ibu rumah tangga. Menyapu, mengepel, mencuci, setrika, merapikan apa yang ada. Berulang kali barang ditata, baginya tetap terlihat berserakan. Tak bisa rapi, tak ada yang memuji, tak ada senyum itu.
Ada sesuatu yang hilang.

Bayi dalam kandungan itu semakin lama, semakin membesar. Berdesakan dengan kulit ibunya yang semakin elastis mengikuti. Ia menatapnya nanar, setiap tatapannya memutar kembali memori otak seperti slide demi slide powerpoint show yang terus saja menayangkan kenangan indah itu. Air mata jatuh, membasahi kain “jarik” motif batik yang membalut tubuhnya kala itu. Sudah tak terhitung berapa kali air mata itu jatuh hingga selang beberapa bulan, bayi mungil ini lahir di dunia, berteriak dengan tangisan kencang. Seorang laki-laki yang kemudian diberi nama “Lusif Mustaqim.”

***

Wanita itu akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang guru, guru agama di sebuah madrasah NU di kota Malang, bayi kecil tersebut diasuh Ibu Mertua agar kenangan manis itu tak kembali lagi. Kini ia membuka kembali hari-hari baru dalam hidupnya. Menjadi seorang pengajar yang mencerdaskan bangsa, yang mau meneruskan cita-cita suaminya untuk tetap mengibarkan bendera merah putih lebih tinggi. Jauh lebih tinggi lagi.

Setiap harinya ia berjalan kaki menempuh berkilometer jalanan tanah yang terkadang becek, melewati pematang sawah membentang, dan puluhan rumah yang dihuni banyak warga. Wanita ini terkenal ramah dan senyum yang khas selalu terkembang di antara bibirnya. Seringkali ia menyapa warga sekitar, melemparkan sebuah senyuman manis.

Hingga suatu ketika..

Pria yang kala itu masih menjadi tawanan Belanda kembali berpeluh keringat mencangkuli tanah yang entah mengapa kala itu sangat keras terasa, butuh berkali-kali dicangkul agar benar-benar gembur. Peluhnya semakin mengucur deras membasahi kaos tipisnya hingga kuyup.
Tak henti-henti tangannya menyeka keringat yang menetes dari ujung rambut hingga ujung dagu di atas kulit yang kini terlihat lebih gelap dari biasanya.
Hingga ketika ia menyapu sebuah keringat kecil di atas keningnya, terlihat seorang wanita yang berjalan mendekat di pematang sawah.

Wanita itu melemparkan senyuman kecil layaknya ia menyapa warga kampung yang lainnya. Senyuman kecil itu masuk ke retina mata mengirimkan impuls ke otak dan diproses lebih lama dari biasanya. Proses yang lebih berbelit dan terus berputar-putar hingga seketika itu juga tak mampu membalas senyuman kecil itu.

Hingga wanita itu lewat dan pergi, ia tetap diam dan terpaku.

Sebuah senyuman yang mampu menembus jantung hati, sebuah senyuman yang membuat panas terik matahari terasa lebih hangat membelai kulit, sebuah senyuman yang membuat kelopak mata enggan untuk menutup membasahi bola mata hitam mengerjap.

Sementara, Wanita itu terus berjalan seperti biasa, meninggalkan petani tawanan berdiri diam mematung.


*****

Langit-langit penjara berjelaga kelam, terlentang seorang anak adam, mematung terdiam. Kedua bibirnya senantiasa tersungging senyum merekah yang seolah kompak dengan mata yang enggan terpejam. Suara dengkuran teman-teman seperjuangannya dulu bagaikan irama Simphony 5th Bethoven mengalun rancak mengiringi denyut jantung yang semakin cepat. Mungkin inilah yang biasa dinamakan dengan “Jatuh Cinta”

Sempurna semalam suntuk dia tak tidur, yang entah mengapa lemas pun tak terasa, penat pun tak hinggap. Hingga pagi harinya ia kembali bersemangat melahap semua pekerjaan sebagai tawanan buruh tani. Inilah pertama kalinya dia merasa bahwa bekerja sebagai tawanan buruh tani adalah pekerjaan yang menyenangkan. Memang benar, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan cinta di dalamnya selalu terlihat menyenangkan.

Siang hari dia mengerjakan lahan yang jaraknya cukup jauh dari pematang sawah yang dilewati malaikat berkerudung itu. Namun siapa saja yang lewat tetaplah terlihat meski harus sedikit memicingkan mata.

Hingga akhirnya Wanita itu berjalan setapak demi setapak melewati pematang sawah yang licak.

Pria tawanan itu menghentikan segala pekerjaannya, untuk sekedar terdiam memperhatikan lamat-lamat dari kejauhan. Hingga benar-benar bayangan wanita itu menghilang dari kejauhan.

Begitu terus hingga tak terasa, satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan.

Bagi pria ini seakan melihatnya saja sudah cukup melepas dahaga rindu setiap harinya yang terkadang jika beruntung mendapatkan hadiah senyuman tipis. Ya.. hanya melihat..

Ia berangan seakan sang wanita memiliki rasa yang sama dengannya, hingga pada suatu hari dia berusaha memberanikan diri untuk berbicara. Aaah.. dia tetap merasa terlalu susah untuk merangkai kata yang memang menjadi kelemahannya selama ini.

Dia mampu mengatakan “Merdeka atau Mati..!!!” di depan kumpeni Belanda, akan tetapi lidah kelu ketika berkata “Aku mencintaimu”..

Akhirnya dia memutuskan untuk menulis selembar surat, berharap pesannya akan lebih mudah tersampaikan kala jemari menari. Dia mencoba untuk menuliskan sebuah puisi, layaknya Shakespeare. Hingga akhirnya jadilah sebuah kalimat padat, lengkap dengan maksud dan tujuan jelas tanpa majas. Kalimat itu adalah:

Setelah aku keluar dari penjara ini, aku akan melamarmu.


Hmm.. anggap saja itu sebuah puisi.

***

Keesokan harinya, pria itu telah siap dengan suratnya, dengan sebait ungkapan hati terdalamnya. Hingga wanita itu melewati jalan setapak itu.

Tak kuasa ketika berdiri, pria ini lantas menghampiri seorang diri. Kedua tatapan mata ini bertemu menjadi satu dalam semu. Tanpa sepatah dua patah kata, tangannya menyodorkan secarik kertas lipat dua dengan tangan gemetar yang diikuti degup jantung menggelegar.

Wanita itu pun takjub, jantung berdegup, sesaat nafas berhenti terhirup. Membuka lipatan dua membaca rangkaian kata tanpa nada dan irama.

Tanpa sepatah kata pun, secarik kertas itu dibuang, ia lari tunggang langgang.

Pemuda itu kembali terdiam lengang, menatap bayang dari kejauhan hingga hilang, lantas memungut kembali puisinya yang terbuang. Kala itu langit seolah kelam.

Semenjak itu, ia tak pernah melewati jalan itu lagi


Satu bulan kemudian

Selama berada dalam penjara, semangat nasionalisme seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya mencapai puncak. Hingga berhasil memukul mundur pasukan kumpeni Belanda di berbagai wilayah lain. Agresi Militer Belanda telah usai, yang berarti bahwa, terbebasnya semua tahanan Belanda. Bebas.. Lepas..

Hal pertama yang dilakukan pemuda itu adalah mencari rumah wanita itu. Ia tahu rasa ini tak bisa hilang begitu saja, ia kembali berusaha menggapai cintanya. Ia yakin bahwa Tuhan telah menetapkan jodoh wanita itu untuknya. Jika pun ia kembali ditolak pun tak apa.. setidaknya ia telah penuh berusaha.

Dengan bantuan tanya sana sini, sampai lah ia di depan rumah sederhana yang nampak lebih mengerikan dari markas Belanda.

Satu dua kali mengetuk, akhirnya seorang Bapak tua membukakan pintu dan bertanya dalam bahasa jawa, “Maaf mau bertemu dengan siapa?”

Ketika itu pun dia sadar, bahwa ia pun belum mengetahui nama perempuan tersebut.

Lalu ia pun hanya menjelaskan dengan tegas bahwa kedatangannya kemari untuk melamar seorang guru perempuan yang sering melewati jalan setapak dekat persawahan tawanan Belanda.

Bapak itu pun tertawa tanpa sendawa dengan mulut menganga hingga terlihat jelas jumlah seluruh giginhya. Kemudian mempersilahkan masuk pemuda itu untuk duduk dengannya berbicara empat mata.

Ia adalah Ayah kandung dari wanita idamannya.

Dan untunglah, Ayah itu tak semengerikan tentara Belanda.

Selesai

0 komentar:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 Bravo | TNB