Romansa cinta Eyang Kakung dan Eyang Putri (Based on True Story) Part I

Rabu, 23 Maret 2011 5 komentar


(backsound: Sepasang Mata Bola-unknown)

Pemuda itu berbadan tegap, legam coklat kulitnya, mata hitam tajam memandang, dengan alis tebal menggantung hingga tipis-tipis hampir bersambung diantara keduanya. Ototnya kekar tegap dan padat, tidak menggembung, namun bekas-bekas kerja keras mencangkul sawah jelas tergambar dalam setiap tetes air keringat yang bercucur dari tiap milimeter pori-porinya. Pria ini tidak banyak cakap, pendiam namun tegas, berkomitmen dan bertanggung jawab atas setiap keputusannya, Tak kurang satu dua pria meminta ia untuk meminang putri kesayangannya. Namun belum ada satu orang wanita pun yang bisa mengisi celah di hatinya. Hingga pada suatu ketika, kala itu agresi militer belanda pertama tiba.

Merah putih yang baru saja dikibarkan beberapa tahun, ternyata harus mengalami cobaan pertamanya. Kumpeni Belanda datang kembali untuk mengambil alih perkebunan-perkebunan penting, termasuk kala itu di Kota Banyuwangi yang dihuni pemuda itu. Semua lapisan masyarakat, kaya miskin, tua muda, ikut merasakan perjuangan mempertahankan merah putih tanpa warna biru tetap berkibar. Setiap pemuda selalu takjub akan suara Bung Karno yang meletup-letup ketika berpidato, mengobarkan jiwa ikut memiliki bangsa, meski belum sempat untuk melihat langsung dan terpisah ratusan kilometer membentang.

Pemuda itu ikut berdiri di barisan terdepan bersenjatakan pacul (cangkul) yang dengan sekali dua tebasan mampu mengoyak wajah serdadu belanda itu, mengobarkan semangat pemuda yang lain untuk terus berjuang. Sontak para serdadu bergidik tak menyangka bahwa seorang petani dengan cangkulnya mampu memimpin pasukan mengobarkan semangat perjuangan dan memukul mundur para penjajah. Walhasil pemuda itu pun menjadi bidikan utama untuk ditangkap dan dipenjarakan.

Suatu ketika terjadi penyerangan besar-besaran dengan senjata berapi mematikan yang setidaknya memporak-porandakan pasukan pejuang tanah air. Beruntung pemuda itu masih selamat, dan masih bisa melarikan diri, dengan langkah tertatih, dengan status masuk daftar pencarian orang. Tak mungkin untuk berdiam diri di kota Banyuwangi lagi, maka pria ini melangkahkan kaki untuk pindah ke kota sebrang, berjalan menyamar seperti orang biasa, merubah nama menjadi Samsul Hadi, melalui hutan-hutan dan jalan yang tidak mudah.

Naas baginya, penyamaran terbongkar, pemuda ini tertangkap di kota Malang.


*******


Seorang wanita sholihah, berasal dari keluarga baik-baik, anak ketiga dari 5 bersaudara, hidup bahagia dengan sebuah ikatan pernikahan, harmonis, mesra, bahagia. Keduanya sama-sama menikah di usia muda, tak ubahnya seorang gadis desa yang cantik idaman para perjaka di kampungnya, bersanding dengan pemuda pilihan keluarga terpandang. Berdua mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia, tak kurang suatu apapun. Kabar bahagia itu tiba, wanita itu hamil.

Berdua setiap hari merekahkan senyum, mencoba-coba mencari bakal nama untuk sang anak. Sang suami setiap hari menciumi perut calon ibu itu seraya mengelus, membayangkan lucunya ia ketika balita nanti, menuntunnya belajar berjalan, menimang ketika menangis, dan mengajarkan arti kehidupan kepada sang anak. Terkadang sang istri merajuk meminta mangga muda, sang suami memanjat dan mengambil satu dua buah mangga yang masih mentah, semua demi sang istri dan bayi dalam kandungan tentunya. Bahagia mereka.. sungguh bahagia..

Hingga pada suatu ketika, panggilan untuk berjuang pun datang, merah putih harus terus dikibarkan. Sebagai salah satu kaum muda yang berpengaruh kala itu, Sang suami tersebut memberanikan diri untuk masuk berjuang bersama pemuda lain. Rasa nasionalisme yang semakin membuncah setelah mendengar pidato kharismatik Bung Karno di radio, semua lapisan masyarakat mengambil segala sesuatu sebagai senjata, tak ada kata untuk “tidak berjuang” kala itu.

Ketika hendak berangkat, sang suami mengecup kening istri. Berbicara tentang sepatah dua patah kata cinta. Kemudian mencium perut sang istri. Mengucap pesan seorang ayah kepada anaknya. Wanita berkerudung itu menangis, sesekali sang suami menghapus setiap tetes air mata yang menetes di pipinya. Mencoba untuk lebih tegar, dan meyakinkan sang istri bahwa medan perang tak akan lama. Ia pasti kembali.

Naas baginya.. kecupan kening tersebut adalah kecupan terakhir. Sang suami gugur di medan perang

-Bersambung-

5 komentar:

  • Reksa mengatakan...

    wah benern terbawa suasana perjuangan... sumpah deh... sebelum baca aku saranin download dulu lagu sepasang mata bola... biar waktu baca suasanyanya nyatu ama lagu.... merinding aku jdnya....

    Sepasang mata bola : http://www.4shared.com/audio/22UxWMcP/SEPASANG_MATA_BOLA_-_SRI_HARTA.html

  • Anonim mengatakan...

    Owalah...
    Iki ceritane ttg asal-muasal Bravo Aldito ta?
    Ndak dong aq, hehehe

    Oiyo, iku alamat blogku sing dipasang ndek blogmu wes kadaluarsa, wes pindah alamat baru...

  • Bravo aldito mengatakan...

    @catoer.. mbahku wedok biyen cerito.. saiki wes almarhum toer.. iki ae mengingat-ingat rodok2 lali.. takon dulur2.. baru ditulis..

    @sadako.. aaah.. awakmu g ngomong2.. oke tak ganti..

    NANTIKAN PART II terbit.. (sambil nginget2 cerita nenek dulu)

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 Bravo | TNB