Romansa Cinta Eyang Kakung dan Eyang Putri Part III (End)

Minggu, 12 Juni 2011 1 komentar


Silahkan bagi yang mau melihat Full versionnya di sini:

Romansa Cinta Eyang Kakung dan Eyang Putri (Full Version)

(backsound: Nyiur Hijau-Maladi)

Langit-langit penjara berjelaga kelam, terlentang seorang anak adam, mematung terdiam. Kedua bibirnya senantiasa tersungging senyum merekah yang seolah kompak dengan mata yang enggan terpejam. Suara dengkuran teman-teman seperjuangannya dulu bagaikan irama Symphoni 5th Bethoven mengalun rancak mengiringi denyut jantung yang semakin cepat. Mungkin inilah yang biasa dinamakan dengan “Jatuh Cinta”

Sempurna semalam suntuk dia tak tidur, yang entah mengapa lemas pun tak terasa, penat pun tak hinggap. Hingga pagi harinya ia kembali bersemangat melahap semua pekerjaan sebagai tawanan buruh tani. Inilah pertama kalinya dia merasa bahwa bekerja sebagai tawanan buruh tani adalah pekerjaan yang menyenangkan. Memang benar, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan cinta di dalamnya selalu terlihat menyenangkan.

Siang hari dia mengerjakan lahan yang jaraknya cukup jauh dari pematang sawah yang dilewati malaikat berkerudung itu. Namun siapa saja yang lewat tetaplah terlihat meski harus sedikit memicingkan mata.

Hingga akhirnya Wanita itu berjalan setapak demi setapak melewati pematang sawah yang licak.

Pria tawanan itu menghentikan segala pekerjaannya, untuk sekedar terdiam memperhatikan lamat-lamat dari kejauhan. Hingga benar-benar bayangan wanita itu menghilang dari kejauhan.

Begitu terus hingga tak terasa, satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan.

Bagi pria ini seakan melihatnya saja sudah cukup melepas dahaga rindu setiap harinya yang terkadang jika beruntung mendapatkan hadiah senyuman tipis. Ya.. hanya melihat..

Ia berangan seakan sang wanita memiliki rasa yang sama dengannya, hingga pada suatu hari dia berusaha memberanikan diri untuk berbicara. Aaah.. dia tetap merasa terlalu susah untuk merangkai kata yang memang menjadi kelemahannya selama ini.

Dia mampu mengatakan “Merdeka atau Mati..!!!” di depan kumpeni Belanda, akan tetapi lidah kelu ketika berkata “I Love You”..

Akhirnya dia memutuskan untuk menulis selembar surat, berharap pesannya akan lebih mudah tersampaikan kala jemari menari. Dia mencoba untuk menuliskan sebuah puisi, layaknya Shakespeare. Hingga akhirnya jadilah sebuah kalimat padat, lengkap dengan maksud dan tujuan jelas tanpa majas. Kalimat itu adalah:

“Setelah aku keluar dari penjara ini, aku akan melamarmu.”

Hmm.. anggap saja itu sebuah puisi.

Keesokan harinya, pria itu telah siap dengan suratnya, dengan sebait ungkapan hati terdalamnya. Hingga wanita itu melewati jalan setapak itu.

Tak kuasa ketika berdiri, pria ini lantas menghampiri seorang diri. Kedua tatapan mata ini bertemu menjadi satu dalam semu. Tanpa sepatah dua patah kata, tangannya menyodorkan secarik kertas lipat dua dengan tangan gemetar yang diikuti degup jantung menggelegar.

Wanita itu pun takjub, jantung berdegup, sesaat nafas berhenti terhirup. Membuka lipatan dua membaca rangkaian kata tanpa nada dan irama.

Tanpa sepatah kata pun, secarik kertas itu dibuang, ia lari tunggang langgang.

Pemuda itu kembali terdiam lengang, menatap bayang dari kejauhan hingga hilang, lantas memungut kembali puisinya yang terbuang. Kala itu langit seolah kelam.

Semenjak itu, ia tak pernah melewati jalan itu lagi


Satu bulan kemudian

Selama berada dalam penjara, semangat nasionalisme seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya mencapai puncak. Hingga berhasil memukul mundur pasukan kumpeni Belanda di berbagai wilayah lain. Agresi Militer Belanda telah usai, yang berarti bahwa, terbebasnya semua tahanan Belanda. Bebas.. Lepas..

Hal pertama yang dilakukan pemuda itu adalah mencari rumah wanita itu. Ia tahu rasa ini tak bisa hilang begitu saja, ia kembali berusaha menggapai cintanya. Ia yakin bahwa Tuhan telah menetapkan jodoh wanita itu untuknya. Jika pun ia kembali ditolak pun tak apa.. setidaknya ia telah penuh berusaha.

Dengan bantuan tanya sana sini, sampai lah ia di depan rumah sederhana yang nampak lebih mengerikan dari markas Belanda.

Satu dua kali mengetuk, akhirnya seorang Bapak tua membukakan pintu dan bertanya dalam bahasa jawa, “Maaf mau bertemu dengan siapa?”

Ketika itu pun dia sadar, bahwa ia pun belum mengetahui nama perempuan tersebut.

Lalu ia pun hanya menjelaskan dengan tegas bahwa kedatangannya kemari untuk melamar seorang guru perempuan yang sering melewati jalan setapak dekat persawahan tawanan Belanda.

Bapak itu pun tertawa tanpa sendawa dengan mulut menganga hingga terlihat jelas jumlah seluruh giginhya. Kemudian mempersilahkan masuk pemuda itu untuk duduk dengannya berbicara empat mata.

Ia adalah Ayah kandung dari wanita idamannya.

Dan untunglah, Ayah itu tak semengerikan tentara Belanda.

Selesai

1 komentar:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 Bravo | TNB