Tak Ada Doa Untuk Hari Ini

Selasa, 08 Maret 2011 0 komentar



-Backsound: Sebelas Februari-Gigi *maksa*-

Derap langkah perlahan samar terdengar, kelopak mata ini mulai mengkerut sedikit demi sedikit. Kedua bola mata hitam ini mulai menangkap secerca cahaya yang masuk mengurai berjuta warna dalam remang lampu neon ruang sebelah. Satu demi satu langkah terdengar kembali, perlahan tapi pasti dalam tempo satu per dua ketukan. Kepala ini pelan-pelan terangkat, mencoba mengenali ruang sekitar, letak posisi sekujur badan yang merapat pada tembok, dan mulai sedikit demi sedikit bangkit dari busa tipis depan televisi itu.

Masih teringat di pagi itu, masuk ke dalam memori yang paling dalam, bahwa hari itu adalah hari di mana pesawat Trigana Air jurusan Pangkalan Bun-Surabaya telah menanti pukul 15.00 WIB. Sebuah senyuman kecil pun merekah dalam sunyi keheningan pagi itu. Setelah menunaikan kewajiban, kembali badan ini direbahkan pada kasur tipis depan televisi ini, mencoba mempercepat waktu dengan tidur kembali. Setelah sepersekian detik kemudian, mata pun terpejam dengan sempurna.
#untuk kegiatan selanjutnya,pre memori aja ya..

Senyuman itu semakin merekah ketika langkah pertama menapaki pesawat boeing 737 satu-satunya milik trigana air ini. Dengan ditemani kakak Fajar Kurniawan yang merupakan alumnus KP2KP Sukamara, yang telah sukses yudisium tahun lalu, hati ini semakin mantab memasuki kabin pesawat. Senyum dari pramugari yang tidak cantik namun menarik pun menyambut pria dengan kulit Indonesia yang semakin eksotis akibat hobby memancing yang sedikit demi sedikit saya tekuni demi mengisi kekosongan. Setelah memasukkan tas ke dalam bagasi, kemudian duduk di kursi posisi window, hmm agaknya saya memang lebih menikmati posisi ini. Karena dengan posisi ini saya bisa menatap bagaimana hamparan hijau pulau Kalimantan berubah menjadi biru air seperti jelly, berkerlip-kerlip memantulkan seberkas cahaya matahari, saya dapat menatap awan bergumpal-gumpal putih yang mengingatkan saya pada film kera sakti saat sun go kong mengacaukan kayangan, saat ti pat kai masih menjadi jenderal tianfang menggoda adik chang en, saat Dewi Kwan Im bergegas turun mengingatkan Sun Go Kong atas kenakalannya.. pikiran itu sekelebat saja berlalu dalam obrolan ditemani kue yang diberikan para pramugari yang tidak cantik tapi menarik itu.

Tak terasa satu jam berlalu sangat cepat, berbeda dengan dulu yang harus berdesak-desakan dalam waktu 24 jam lebih kurang, dalam kereta api matarmaja saat-saat kuliah dulu. Dengan wajah yang seperti telah dibasuh dengan minyak tanah berkilau dengan canda tawa hardcore khas Maharema. Ahh.. sudahlah mungkin dalam artikel lain akan saya ceritakan sekumpulan orang-orang hebat itu, sekumpulan Maharema.

Akhirnya di balik awan putih tipis itu telah tersibak kotak-kotak kecil teratur dengan sedikit banyak ada yang menjulang ke atas. Saya telah kembali menemukan peradaban, pelan terpekik dalam hati. Senyum pun mengembang, merekah ditimpali dengan suara pilot yang memperingatkan untuk memasang kembali sabuk pengaman bersama pramugari yang tidak cantik tapi menarik itu berlalu lalang ke depan dan ke belakang.

Alhamdulillah saya telah kembali menjejakkan kaki di tanah jawa. Merasakan modernisasi Surabaya, yang berarti 2 jam lagi saya akan tiba di Malang, tanah kelahiran. Saya dan Bung Fajar kembali melanjutkan perjalanan membelah kota Surabaya dengan segala hiruk pikuknya. Melewati Lumpur Lapindo yang entah kapan berhenti menyembur, dan berhenti membuat klakson mobil berdenging bersahut-sahutan lebih keras. Berpapasan dengan beraneka macam merek mobil, tidak hanya Ranger, Strada atau terios yang satu dua melintas di jalan depan kantor. Perasaan ini kembali membuncah ketika telah menemui tulisan Selamat datang di Kota Malang, melintas melalui Tugu Kota Malang dengan warna warni lampunya di malam hari, melintasi patung Jenderal Sudirman yang duduk di atas kudanya. Hingga akhirnya tibalah Lisa Tour and Travel ini di depan rumah nomor B1 E19 dengan pagar hitam dan atap muka yang reyot itu. Rumah Mama.

Saat membuka pintu mobil, terlihat wajah Ibu-ibu tua kecil berambut keriting dengan mata teduh dan senyuman mengembang di kedua bibirnya yang mungil. Masih saya ingat daster merah itu menyambut saya dengan pelukan hangat. Kedua mata Mama berkaca-kaca, memandang saya dengan senyuman yang menyejukkan mata. Teh hangat pun telah tersaji dengan gelas besar yang mampu melepaskan dahaga selama perjalanan tadi. 15 menit kemudian kakak saya datang untuk menjemput malam itu. Maka untuk beberapa saat saya mengucapkan salam kepada Mama, mengecup punggung tangannya dan kembali melihat Mata Mama yang berkaca-kaca.

Dua orang wanita itu dengan senyumnya menyambut kehadiran saya kembali ke rumah kakak yang terletak 6 kompleks dengan rumah Mama. Wanita yang satu masih muda dan bertubuh besar sedang satunya imut-imut menggemaskan, ya itu adalah kakak ipar dan keponakan saya. Anak kecil itu sekarang sudah berubah lebih gemuk dan lucu. Memang sih belum bisa salto atau menari balet, tapi tetap mengemaskan seperti bayi-bayi lain.

Setelah makan dan mengobrol cukup panjang, tibalah saat untuk bercumbu kembali dengan bantal dan guling yang lama saya tinggalkan. Karena perbedaan suhu air, maka saya putuskan hanya berwudlu malam ini, membasuh muka, tangan, kepala dan kedua kaki. Segera saya memulai dengan Takbiratul Ihram hingga salam. Terdiam beberapa saat yang ada hanya sunyi.. sepi..

Teringat bagaimana perjalanan 3 hari lalu menaiki speedboat melintas sungai dan laut menuju Pangkalan Bun,Teringat saat-saat sendiri dalam kesepian di kota penempatan, teringat saat-saat mengambil undian dan tertulis dengan huruf latin KP2KP Sukamara, teringat wajah imut-imut bayi kecil keponakan saya itu, teringat bagaimana senyum mama saat menyambut saya turun dari mobil, teringat senyum mama saat menyediakan teh hangat yang masuk ke dalam kerongkongan, teringat senyum mama ketika memamerkan tabungan haji yang telah diurusnya bulan lalu, teringat senyum mama dengan matanya yang berkaca-kaca memeluk dada ini, teringat semuanya bagaikan video rekaman yang diputar berulang-ulang. Dan seketika itu juga air mata ini jatuh, jatuh setelah bertahun lamanya tidak pernah terjatuh. Menetes meresap ke dalam sajadah panjang itu.

Tuhan.. Tak ada doa untuk hari ini.. yang ada hanya ungkapan terima kasihku kepadaMu.. yang masih membiarkanku bernafas.. menikmati secerca kebahagiaan ini.. kebahagiaan dapat menghirup kembali udara kota Malang.. kebahagiaan atas berharganya memiliki teman-teman dan keluarga.. Terima Kasih Allah..


Satu teka-teki telah terpecahkan, kebahagiaan ini tak akan dapat diperoleh jika saya tidak ditempatkan di Sukamara. Harta yang selama ini saya kesampingkan keberadaannya. Entah apa bagian puzzle berikutnya yang akan saya temukan dalam hidup ini.. dan saat itu.. untuk pertama kalinya saya tulus dari dalam hati mengucap ..

Terima Kasih Tuhan..

0 komentar:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 Bravo | TNB